1 Agustus 2026
Enam Puluh Tiga Foto Arsip dalam Urutan yang Salah
Ines memotret 63 halaman buku besar dari tahun 1890-an di sebuah arsip kota. Begini caranya dia memakai alat browser gratis untuk mengonversi JPG ke PDF dan membenahi urutannya.
Minggu sore. Enam puluh tiga foto di laptop, dan halaman 10 terselip di antara halaman 1 dan halaman 2.
Ines sudah tiga tahun menempuh program doktor tentang kredit pedesaan. Kamis sebelumnya dia menghabiskan enam jam di sebuah arsip kota untuk memotret buku besar pinjaman dari tahun 1890-an, halaman demi halaman, dengan ponselnya. Tidak boleh ada pemindai di ruang baca, tidak boleh lampu kilat, tidak boleh tripod. Pembimbingnya ingin seluruh buku besar itu menjadi satu berkas yang bisa dibaca paling lambat Senin, artinya dia harus mengonversi JPG ke PDF sekaligus mengembalikan halaman-halamannya ke urutan semula. Dua-duanya belum pernah dia lakukan.
Halaman 10 Muncul Sebelum Halaman 2
Foto-fotonya sendiri baik-baik saja. Urutannya tidak.
Dia memotret dari depan ke belakang, dan ponselnya memberi nama berkasnya IMG_1 sampai IMG_63. Entah di mana antara ponsel dan laptop, sesuatu mengurutkannya sebagai teks alih-alih angka, sehingga IMG_10 mendarat tepat setelah IMG_1, dan IMG_20 tepat setelah IMG_2. Buku besar yang dibaca tidak berurutan bukan lagi buku besar. Itu cuma 63 lembar foto tulisan tangan yang berserakan.
Percobaan pertamanya adalah dialog cetak. Pilih semua, cetak ke PDF. Hasilnya satu gambar per halaman di dalam bingkai putih yang begitu tebal sampai tulisan tangannya mengecil hingga tak terbaca lagi, dan urutan yang kacau itu tetap dipertahankan dengan setia. Membetulkannya berarti mengganti nama 63 berkas satu per satu, di hari Minggu, di laptop berusia sembilan tahun yang tidak ingin dia pasangi apa pun.
Satu Hasil Tanpa Tembok Pendaftaran
Dia mencari cara mengonversi JPG ke PDF secara online dan gratis, lalu melewati begitu saja beberapa hasil teratas. Dua di antaranya meminta akun sebelum mau menampilkan apa pun. Satu lagi membatasi lima berkas kecuali dia berlangganan. Yang keempat adalah MyTools, dan halamannya langsung terbuka pada sebuah zona drop.
Urutkan Dulu, Konversi Kemudian
Dia menyeret seluruh 63 berkas sekaligus. Semuanya muncul sebagai kisi thumbnail, masing-masing bernomor di sudutnya, dan angka-angka itu membuat masalahnya terlihat jelas dengan cara yang tidak pernah dilakukan daftar berkas. Dia menyeret halaman 10 kembali ke tempatnya, lalu 11 sampai 19, lalu yang dua puluhan. Sekitar empat menit merapikan.
Dua jepretan miring ke samping, diambil dengan ponsel diputar untuk halaman ganda yang lebih lebar. Dia membetulkannya di alat putar gambar lalu memasukkannya kembali.
Pengaturannya justru lebih memusingkan daripada mengurutkan ulang. A4 potret memampatkan halaman buku besar yang lebar menjadi bilah tipis dengan ruang putih di atas dan di bawahnya, jadi dia mengganti ukuran halaman menjadi "Sesuaikan gambar" dan mengatur margin ke "Tidak ada". Pratinjaunya berhenti membuang-buang ruang. Kotak "Satu PDF per gambar" dia biarkan tidak tercentang, karena justru intinya adalah berakhir dengan satu berkas.
Salah satu foto memuat sudut buku catatannya di dalam bingkai. Dia biarkan saja.
Sembilan Megabyte, Terkirim Minggu Malam
PDF-nya jadi berukuran 88 MB, dan server surel kampus langsung menolaknya. Dia melewatkannya lewat kompresor PDF dan ukurannya turun menjadi sekitar 9 MB. Tulisan tangan dari tahun 1890-an itu masih terbaca pada zoom penuh, dan hanya itulah ujian yang penting.
Terkirim pukul 6:40 sore. Pembimbingnya membukanya hari Senin dan menanyakan satu entri di halaman 41, yang berarti penomoran halamannya selamat.
Kenapa Dia Kembali Dua Minggu Kemudian
Tidak ada yang dipasang, tanpa akun, tanpa biaya, dan semuanya berjalan di dalam tab browser. Bagian terakhir itu ternyata jauh lebih penting daripada yang dia kira. Arsip menetapkan syarat reproduksi atas materi mereka, dan dia tidak boleh menyerahkan gambar yang belum diterbitkan kepada pihak ketiga. Karena konversinya berlangsung secara lokal dan berkas-berkasnya tidak pernah meninggalkan komputernya, tidak ada yang perlu dijelaskan kepada siapa pun.
Dua minggu kemudian dia kembali ke ruang baca yang sama dengan buku besar kedua, dan kali ini dia memotret sambil tahu persis apa yang akan dia lakukan dengan hasilnya.
Enam puluh tiga foto ponsel, satu buku besar, satu PDF, dan tanpa perangkat lunak yang dipasang. Coba konverter JPG ke PDF secara gratis →